Saturday, October 24, 2009

Ekonomi : Tiongkok Bergerak Cepat

SUARA PEMBARUAN DAILY, 23 Oktober 2009

Ekonomi Tiongkok Bergerak Cepat

[BEIJING] Ekonomi Tiongkok, salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia, berjalan lebih cepat selama kuartal ketiga tahun ini. Hal ini makin memicu perdebatan mengenai apa dan kapan pemerintah negara itu mulai menarik stimulus ekonomi.

Dimulai dengan meningkatnya pinjaman di perbankan, pemerintah bermurah hati mendukung ekspor dan paket stimulus senilai 585 mili- ar dolar AS, dan ekonomi Tiongkok bertumbuh 8,9% dari Juli hingga September. Kenaikan itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, demikian data yang dikeluarkan pemerintah itu, Kamis (22/10) di Beijing.

Ekonomi Eropa, Jepang, dan AS masih tetap lemah dibanding Tiongkok atau Australia. Ekonomi AS menyusut 0,7% selama kuartal kedua, dan data kuartal ketiga akan dikeluarkan pekan mendatang. Tapi, ekonomi AS itu diperkirakan berkembang 3,1%.

Sedangkan laporan ekonomi lainnya, di Tiongkok, yang dikeluarkan Kamis ju-ga memperlihatkan penjualan ritel dan produksi industri meningkat pada bulan September. Kenyataan itu mengimbangi anjloknya ekspor, salah satu urat nadi ekonomi Tiongkok, selama 11 bulan ini.

Melonjak

Tahapan pengembangan PDB Tiongkok melonjak dari 7,9% di kuartal kedua ke arah pencapaian target 8% yang menurut para ekonom dibutuhkan stabilitas sosial dan kesejahteraan para karyawan.

Walaupun masih banyak PHK tahun ini, pemulihan ekonomi Tiongkok mulai memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya inflasi dan potensi tidak berkelanjutan naiknya harga saham dan properti.

“Pemerintah mulai berhati-hati terjadinya bubble lainnya,” ujar Alistair Chan, ekonom dari Economy.com.

Sistem perbankan yang dikenalikan pemerintah sudah menyalurkan kredit baru senilai 1,27 triliun dolar AS sepanjang tahun ini dan beberapa analis juga sudah memperingatkan terlalu banyak uang yang beredar akan mandek di saham-saham dan realestat.

Nilai properti di daratan Tionglok sepanjang tahun ini 73%. Dan saham di negara itu naik 80% dalam kurun waktu tujuh bulan pertama tahun 2009 sebelum kemudian jatuh begitu kredit perbankan kembali ke tahap- an normal dan membanjir-nya bantuan untuk investasi. [IHT/E-4]

No comments:

Post a Comment